Kamis, 14 Agustus 2014

Organisasi = Tentang Pengorbanan

Melihat adik-adik di pengurusan saat ini bekerja hampir setengah periode pengurusan melaksanakan proker proker dgn gigih dan saling membahu hingga akhirnya saat ini keadaan sedang menurun membuat saya teringat pengalaman saya sebagai pengurus tahun pertama, ada banyak tantangan yang menghadang terutama dari dalam diri sendiri, Pertanyaan “apa gunanya buat saya?” hal biasa yg selalu menghinggapi para organisatoris pemula, ketika itu saya hanya membalikkan pertanyaan itu menjadi “apa yang bisa saya berikan?” Memberikan berarti berkorban, ikhlas sebagian miliknya digunakan bukan untuk kepentingan pribadi, memberikan waktu, tenaga, fikiran, bahkan uang. Tak jarang pengorbanan juga meminta saat-saat belajar, saat-saat berkumpul bersama teman dan saat-saat berkumpul bersama keluarga.

Berorganisasi tidak bisa tanpa pengorbanan, sejauh mana kita mampu berkorban, maka sejauh itu pulalah organisasi kita mampu berkembang. terlebih lagi di organisasi yg berazas sosial. Aktualisasi diri, peran di masyarakat, posisi sosial di kampus maupun masyarakat adalah hasil dari pengorbanan. Kita tidak bisa mengambil manfaat tanpa berkorban terlebih dahulu. Ketika seseorang menjadi mahasiswa berprestasi, kita harus mampu menjadi mahasiswa aktivis dan berprestasi, jika ia mengorbankan waktu senggang untuk belajar, kita harus memanfaatkan waktu senggang untuk belajar dan berorganisasi, tentu akan lebih banyak waktu yang terpakai, tapi itulah pengorbanan.

Dalam islam, pengorbanan justru identik dengan tambahan dan pembersihan. Pengorbanan harta dalam zakat fitrah dapat membersihkan harta kita dari hal-hal yang tidak barokah, pengorbanan lewat infaq-shodaqoh dapat menambah harta kita hingga 700 kali lipat,membantu memecahkan masalah dan masih banyak lagi. Begitu pula jika pengorbanan dalam perspektif islam untuk organisasi, setiap organisasi dalam islam harus memiliki bobot kemaslahatan bersama apapun basis kegiatan organisasi tersebut, dengan itu kehidupan menjadi barokah. saya percaya sebagai organisasi yg bergerak dibidang sosial dalam pengabdian masyarakat, apapun yang kita korbankan untuk tujuan tersebut tidak hanya bermanfaat di dunia tapi juga akhirat, tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri tapi juga orang lain.

Jika pengorbanan berorganisasi di kampus dapat memakai perspektif islam tentu semua orang akan berlomba-lomba menjadi kader dengan pengorbanan terbaik, tentu dengan catatan tidak kebablasan dan tidak mengorbankan hal yang tidak seharusnya dikorbankan. Memang ada saat-saat dimana kita harus membuat keputusan sulit dimana kita harus memilih salah satu diantara pelajaran atau kegiatan organisasi, meskipun manajemen waktu sudah sebaik apapun tetap saja hal ini muncul.

Pengorbanan dapat menjadi kebablasan jika tidak diikuti oleh manajemen waktu pribadi dan manajemen organisasi yang baik, pengorbanan yang kebablasan hanya akan menghasilkan kerugian dan penyesalan, hingga pada akhirnya si pengorban yang kebablasan itu justru menjadikan organisasi sebagai kambing hitam. saya sadar menjadi tugas saya sebagai ketualah sebagai manajer yang mengatur agar tak terjadi “pengorbanan kebablasan”. sekali lagi saya tidak ingin ada pengorbanan kebablasan.

Saya sangat mengapresiasi dan bangga usaha dan pengorbanan teman2 pengurus yg aktif sampai saat ini dengan segala dinamika organisasi yang ada dan jadwal yang super gila, teman2 tetap bersedia. Dan kedepan, prinsip pengorbanan (sekali lagi, yang tidak kebablasan) dan manajemen waktu yang baik harus dapat dilakukan untuk tetap dapat meraih nilai tambah dari gabungan sisi positif akademik+organisasi

Selalu ada waktu jika kita memanajemen dengan baik, selalu ada kesempatan jika ada kemauan, selalu ada kemudahan jika kita berusaha, dengan begitu kita bersama mendapat manfaat yg baik dari aktiv berorganisasi dan menjadi orang2 hebat kemudian hari kelak. Sebuah pilihan untuk terus berkontribusi bersama sebagai keluarga itu yang saya harapkan, bukan saya yg membutuhkannya tp diluar sana yg membutuhkan.

Kami ada karena kami dibutuhkan.


Samsudin – Ketua KSPA UNJ