Melihat adik-adik di pengurusan saat ini bekerja hampir setengah
periode pengurusan melaksanakan proker proker dgn gigih dan saling membahu hingga
akhirnya saat ini keadaan sedang menurun membuat saya teringat pengalaman saya sebagai
pengurus tahun pertama, ada banyak tantangan yang menghadang terutama dari
dalam diri sendiri, Pertanyaan “apa
gunanya buat saya?” hal biasa yg selalu menghinggapi para organisatoris pemula,
ketika itu saya hanya membalikkan pertanyaan itu menjadi “apa yang bisa saya berikan?” Memberikan berarti
berkorban, ikhlas sebagian miliknya digunakan bukan untuk kepentingan pribadi,
memberikan waktu, tenaga, fikiran, bahkan uang. Tak jarang pengorbanan juga
meminta saat-saat belajar, saat-saat berkumpul bersama teman dan saat-saat
berkumpul bersama keluarga.
Berorganisasi tidak bisa tanpa pengorbanan, sejauh mana kita
mampu berkorban, maka sejauh itu pulalah organisasi kita mampu berkembang. terlebih
lagi di organisasi yg berazas sosial. Aktualisasi diri, peran di masyarakat,
posisi sosial di kampus maupun masyarakat adalah hasil dari pengorbanan. Kita
tidak bisa mengambil manfaat tanpa berkorban terlebih dahulu. Ketika seseorang
menjadi mahasiswa berprestasi, kita harus mampu menjadi mahasiswa aktivis dan
berprestasi, jika ia mengorbankan waktu senggang untuk belajar, kita harus
memanfaatkan waktu senggang untuk belajar dan berorganisasi, tentu akan lebih
banyak waktu yang terpakai, tapi itulah pengorbanan.
Dalam islam, pengorbanan justru identik dengan tambahan dan
pembersihan. Pengorbanan harta dalam zakat fitrah dapat membersihkan harta kita
dari hal-hal yang tidak barokah, pengorbanan lewat infaq-shodaqoh dapat
menambah harta kita hingga 700 kali lipat,membantu memecahkan masalah dan masih
banyak lagi. Begitu pula jika pengorbanan dalam perspektif islam untuk
organisasi, setiap organisasi dalam islam harus memiliki bobot kemaslahatan bersama
apapun basis kegiatan organisasi tersebut, dengan itu kehidupan menjadi barokah.
saya percaya sebagai organisasi yg bergerak dibidang sosial dalam pengabdian masyarakat,
apapun yang kita korbankan untuk tujuan tersebut tidak hanya bermanfaat di
dunia tapi juga akhirat, tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri tapi juga
orang lain.
Jika pengorbanan berorganisasi di kampus dapat memakai
perspektif islam tentu semua orang akan berlomba-lomba menjadi kader dengan
pengorbanan terbaik, tentu dengan catatan tidak kebablasan dan tidak
mengorbankan hal yang tidak seharusnya dikorbankan. Memang ada saat-saat dimana
kita harus membuat keputusan sulit dimana kita harus memilih salah satu
diantara pelajaran atau kegiatan organisasi, meskipun manajemen waktu sudah
sebaik apapun tetap saja hal ini muncul.
Pengorbanan dapat menjadi kebablasan jika tidak diikuti oleh
manajemen waktu pribadi dan manajemen organisasi yang baik, pengorbanan yang
kebablasan hanya akan menghasilkan kerugian dan penyesalan, hingga pada
akhirnya si pengorban yang kebablasan itu justru menjadikan organisasi sebagai
kambing hitam. saya sadar menjadi tugas saya sebagai ketualah sebagai manajer
yang mengatur agar tak terjadi “pengorbanan
kebablasan”. sekali lagi
saya tidak ingin ada pengorbanan kebablasan.
Saya sangat mengapresiasi dan bangga usaha dan pengorbanan teman2 pengurus
yg aktif sampai saat ini dengan segala dinamika organisasi yang ada dan jadwal yang super
gila, teman2 tetap bersedia. Dan kedepan, prinsip pengorbanan (sekali lagi, yang
tidak kebablasan) dan manajemen waktu yang baik harus dapat dilakukan untuk
tetap dapat meraih nilai tambah dari gabungan sisi positif akademik+organisasi
Selalu ada waktu jika kita memanajemen dengan baik, selalu
ada kesempatan jika ada kemauan, selalu ada kemudahan jika kita berusaha, dengan
begitu kita bersama mendapat manfaat yg baik dari aktiv berorganisasi dan menjadi
orang2 hebat kemudian hari kelak. Sebuah pilihan untuk terus berkontribusi bersama
sebagai keluarga itu yang saya harapkan, bukan saya yg membutuhkannya tp diluar
sana yg membutuhkan.
Kami ada karena kami dibutuhkan.
Samsudin – Ketua KSPA UNJ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar